KLIK LAMBANG UNTUK BERITA DAERAH PILIHAN

           

Achmad-Masrul Siapkan 30 Saksi Untuk Sidang MK

    

achmad-masrulPekanbaru – Penggugat dari tim calon gubernur Achmad-Masrul Kasmy mengajukan 30 saksi untuk sidang kasus kecurangan pelaksanaan Pilkada Gubernur Riau di Mahkaman Konstitusi.

“Dalam sidang selanjutnya di MK, kami telah mengajukan 30 saksi untuk memperkuat indikasi kecurangan-kecurangan,” kata pengacara pasangan Achmad-Masrul Kasmy, Rahmat Zaini SH di Pekanbaru, Jumat.

Ia mengatakan, sidang kedua di MK akan digelar pada Senin (30/9) dengan agenda mendengar tanggapan dari tergugat dan dilanjutkan dengan menghadirkan saksi-saksi. Majelis Hakim yang diketuai oleh Hamdan Zulfa setuju untuk mendengar keterangan saksi secara bertahap, dimulai dengan menghadirkan 22 saksi terlebih dulu.

Namun, Rahmat Zaini hingga kini masih bungkam perihal identitas puluhan saksi yang akan dihadirkan dalam sidang itu.

“Nama-namanya masih rahasia,” katanya.

Sebelumnya, MK menggelar sidang untuk dua perkara mengenai gugatan terhadap penyelenggaraan Pilkada Gubernur Riau di Jakarta pada Kamis (26/9). Salah satunya gugatan dari pasangan calon gubernur Achmad-Masrul Kasmy (BERAMAL) terhadap penghitungan suara KPU Provinsi Riau pada putaran pertama Pilkada Gubernur Riau. Pasangan tersebut maju dengan dukungan Partai Demokrat dan PBR.

Sedangkan, satu perkara lagi dari penggugat calon perseorangan Wan Abubakar-Isjoni untuk menggugat keputusan  KPU Riau yang mengeliminasi pasangan itu.

Dalam sidang sebelumnya, kecurangan Pilkada yang diungkap tim BERAMAL dipaparkan. Mulai dari saksi yang tidak mendapatkan formulir C1 dari panitia pemilu pada penghitungan hasil pemungutan suara, mobilisasi massa, hingga politik uang (money politics).

Penggugat  mengungkapkan adanya dugaan mobilisasi massa dari Provinsi Sumatera Utara (Sumut) untuk menjadi pemilih pada pelaksanaan Pilkada Riau. Para pendatang tersebut didatangkan ke daerah Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) yang berbatasan dengan Sumut oleh salah satu tim kandidat gubernur.

Ia mengatakan, dugaan pelanggaran dilakukan pasangan Annas-Arsyadjuliandi (AMAN) juga terjadi di daerah Kota Lama, Kabupaten Rokan Hulu. Menurut dia, ada indikasi kuat pengerahan massa untuk memilih pasangan nomor urut 2 itu dengan melakukan politik uang (money politics).(ant)

Berita Terkait :

Comments

comments

Back to Home

Categories

Social Widget