KLIK LAMBANG DAERAH UNTUK MELIHAT BERITA




Amankan Alat Berat di Tesso Nilo, Ini Penjelasan KLHK

http://www.riaulive.com/amankan-alat-berat-di-tesso-nilo-ini-penjelasan-klhk.html

Pekanbaru – Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama dengan Polda Riau dan Korem 031/WB mengamankan satu unit alat berat di kawasan hutan Taman Nasional Tesso Nilo.

“Alat berat tersebut kita duga digunakan untuk membuka kawasan perkebunan sawit di hutan lindung tersebut,” kata Kepala Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum (BPPH) Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) Wilayah II Sumatera, Eduwar Hutapea di Pekanbaru, Rabu.

Ia menjelaskan alat berat jenis eskavator tersebut diamankan tim gabungan di Dusun II Pondok Nogun, Desa Bagan Limau, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau.

Kawasan tersebut merupakan bekas areal Hutan Produksi Terbatas (HPT) yang saat ini sedang diupayakan untuk dilakukan pemulihan fungsi ekosistem dan masuk dalam Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).

Menurut Eduwar penangkapan itu berawal dari informasi masyarakat tentang keberadaan alat berat tersebut yang masuk ke kawasan TNTN beberapa waktu lalu.

Petugas Polisi Kehutanan Reaksi Cepat atau SPORC Brigade Beruang kemudian melakukan pengintaian selama beberapa hari, kata Eduwar.

“Hasilnya anggota kami dapat memetakan letak alat berat tersebut,” lanjutnya.

Setelah mengetahui posisi kerja alat berat itu, maka jajarannya langsung berkoordinasi dengan Korem 031/WB dan Polda Riau guna mengamankan alat berat tersebut pada Selasa dinihari (20/12).

“Di TKP kami hanya berhasil menemukan alat berat yang ditinggalkan pemilik maupun operator,” urainya.

Karena tidak ada pemilik maupun operator yang ditemukan, petugas kemudian menghubungi aparat desa setempat. Mereka turut diamankan untuk dimintai keterangan terkait keberadaan ekskavator yang tidak semestinya itu.

Saat ini barang bukti dan saksi telah diamankan di BPPH KLHK Pekanbaru untuk penyelidikan lebih lanjut. “Hasil pemeriksaan sementara, ekstavator itu telah berada di sana sejak 7 Desember silam. Alat itu dimanfaatkan untuk membuka kawasan perkebunan sawit,” ujarnya.

Tesso Nilo adalah rumah bagi 360 flora terbagi dalam 165 marga dan 57 suku, lalu 107 jenis burung, 23 jenis mamalia, tiga jenis primata, 50 jenis ikan, 15 jenis reptilia dan 18 jenis amfibia.

Tercatat pada 19 Juli 2004, kawasan Tesso Nilo dijadikan tanaman nasional dengan areal seluas 38.576 Ha. Namun pada tanggal 19 Oktober 2009, taman nasional tersebut diperluas menjadi 83.068 Ha.

Namun banyaknya warga yang menetap di dalam Taman Nasional Tesso Nilo membuat kawasan ini terancam keberlangsungan sebagai taman nasional. Sebagian besar warga yang tinggal di dalam kawasan TNTN mengganti hutan alam menjadi kebun sawit.

Pengelola Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Provinsi Riau mengklaim, sekitar 5.000 hektare lahan telah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM) dan beralih fungsi, serta total lebih dari 53.000 Ha hutan alam di kawasan tersebut sudah dirambah.

Sementara Data dari penggiat lingkungan World Wildlife Fund for Nature (WWF) Riau mencatat, sejak 2004 hingga 2015 sudah terdapat 74 ekor gajah mati di sekitar taman nasional tersebut.

Tulis Komentar Anda