KLIK LAMBANG DAERAH UNTUK MELIHAT BERITA




Nasib Kawasan TNTN, Kebakaran Hilang Kaveling pun Datang

http://www.riaulive.com/nasib-kawasan-tntn-kebakaran-hilang-kaveling-pun-datang.html

kawasan-tntn-dikavelingPekanbaru – Satuan Tugas Udara Kebakaran Hutan dan Lahan dari Pangkalan TNI Angkatan Udara Roesmin Nurjadin menemukan bekas perambahan dan pembakaran hutan, untuk dijadikan kebun sawit oleh orang yang belum diketahui di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Kabupaten Pelalawan, Riau.

Bahkan saat itu aparat TNI AU yang menggunakan helikopter melihat sejumlah kawasan yang sudah digunduli, dikaveling dan siap dialihkan menjadi perkebunan sawit. Sebelumnya, lokasi-lokasi yang seharusnya diawasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu juga dibakar dengan skala lahan yang luas.

Selain itu, petugas juga menemukan rumah dari kayu atau pondok berdiri kokoh yang diduga didiami petani ilegal yang menanam sawit, dan merawatnya di lahan yang seharusnya tidak boleh digarap baik untuk perorangan maupun perusahaan.

Komandan TNI AU Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru Marsekal Pertama Henri Alfiandi menggelengkan kepala melihat perilaku perambah kawasan konservasi tersebut.

“Lokasi yang ditemukan itu dekat dengan area waterbombing petugas di TNTN. Ini sakti mandraguna,” ujar Marsma Henri, Senin (8/8).

Menurut Henri, kondisi lahan di kawasan TNTN yang ditemukan itu sudah gundul dan siap tanam. Bahkan Satgas juga menemukan pondokan di tengah-tengah lahan tersebut. Berdasarkan laporan, lokasi tersebut berada di Desa Kesuma, Dusun Bukit Kesuma, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan.

“Luasan hektare lahan yang dikonversi belum dipastikan karena petugas hanya memantau dari udara. Petugas gabungan pun masih berada di lokasi untuk memadamkan api. Yang Jelas, lokasi itu merupakan hutan yang baru dirambah dan dibakar oleh orang yang tidak bertanggung jawab,” tegas Henri.

Selama memantau titik api di TNTN, petugas memang menemukan keanehan di lokasi yang berada di bawah naungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu.

Hal itu dimulai dari adanya ratusan hektare sawit, pondokan ilegal, pondokan petani sawit, hingga perkampungan di lokasi konservasi gajah dan marga satwa lainnya.

Sebelumnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di kawasan itu sudah membakar beberapa pondokan. Namun sepertinya, langkah itu terhenti setelah petugas mendapat perlawanan dari masyarakat setempat.

Data dihimpun, TNTN awalnya hanya seluas 38.576 hektare dan terletak di Kabupaten Pelalawan, dan Indragiri Hulu. Selanjutnya tahun 2009, pemerintah menetapkan perluasan kawasan taman nasional menjadi 83.068 hektare.

Sayangnya, jumlah itu berkurang tiap tahunnya karena terjadi pembakaran serta perambahan untuk dialihkan menjadi kebun sawit.

Persoalan TNTN tak pernah selesai hingga sekarang. Meskipun petugas pernah menebang ribuan batang sawit dewasa di lokasi itu, sawit-sawit baru terus tumbuh dan bertambah tiap tahun.(*)

Tulis Komentar Anda